Baru Punya BB

Suasana kelas tampak cukup tenang. Semua orang di dalam kelas tampak asyik memperhatikan dosen yang sedang menerangkan di depan kelas. Tiba-tiba dari pintu masuk sesosok pria muncul dengan tergopoh-gopoh dan dengan salah tingkah karena dipandangi berpasang-pasang mata berusaha mencari tempat duduk yang kosong. Dan akhirnya dia pun duduk di sebelah seorang pria yang sejak tadi juga asyik mendengarkan dosen sambil sesekali mencatat.

“Halo”, sapa si orang yang baru datang.

“Halo”, yang disapa hanya menjawab sekilas karena tidak ingin kehilangan fokus perhatiannya. Sementara itu yang menyapa sepertinya masih belum nyaman duduknya dan sepertinya masih ingin mengucapkan sesuatu.

“Aku baru beli BB, lho”, katanya lagi.

Yang ditanya cuma menoleh sekilas sekedar menunjukkan perhatian. Belagu amat sih baru punya BB aja pake diumumin segala, begitu pikirnya.

“Kamu punya BB juga, nggak”, tanyanya lagi.

Yang ditanya tambah sebal karena keasyikannya terganggu. Dia cuma menggeleng. Apaan sih nih orang mau pamer, ya, begitu pikirnya lagi.

Merasa tidak puas dengan jawaban tersebut dia akhirnya bertanya lagi ke orang lain di sebelah orang yang pertama kali ditanya, “Kalau kamu punya BB, nggak.” Karena agak berjauhan suaranya pun terdengar agak keras sehingga yang ditanya tampak kaget dan orang-orang di sebelahnya jadi ikut menoleh. “Nggak ada,” yang ditanya menjawab sambil menggeleng. Batinnya, mbok ya kalau mau pamer nanti aja di luar kelas.

Yang bertanya semakin tidak puas. Dia kembali menoleh ke sana ke mari berusaha mencari orang lain buat ditanyai. Orang-orang yang tadi sudah merasa terganggu mulai ngedumel dalam hati. Ini orang sok banget sih baru punya BB aja pamer-pamer.

Tiba-tiba terdengar dering telpon. Dari nadanya jelas itu ringtone standar BB. Si tukang tanya tampak gelagapan mengeluarkan handset dari kantong celananya dan buru-buru menekan tombol merah untuk menolak panggilan. Lalu bertanya lagi ke orang di sebelahnya. “Mas, punya BB, nggak.” Kali ini yang ditanya tidak menjawab. Mungkin karena sudah keburu sebal. Yang bertanya pun tidak menyerah. “Kalau mas punya BB, nggak?” Kali ini dia bertanya dengan orang di belakangnya. Tapi belum sempat yang ditanya menjawab, terdengar bunyi ringtone khas BB lagi dan orang tadi langsung menekan kembali tombol merah di handset-nya untuk menolak panggilan. Dan lagi-lagi dia bertanya ke orang lain di belakangnya. Tapi belum sempat dia menyelesaikan pertanyaannya seorang wanita di depannya keburu menyergah, “Aduh, mas. Mbok ya itu BB-nya di-silent. Kita semua terganggu, nih.” “Iya, mas. Di-silent, dong. Nggak usah pamer gitu, deh.” Dan beberapa orang lain pun satu-persatu ikut menyahut mengiyakan permintaan tersebut. Si pemilik BB jadi tambah gelagapan. “Iya, maaf. Ini dari tadi mau saya silent tapi saya nggak tahu caranya makanya saya tanya siapa yang punya BB. Maklum saya baru beli jadi belum tahu caranya… Maaf, ya…”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: