Membela Zidane

Zidane, Piala Dunia 2006Pasca pertarungan seru Piala Dunia 2006, media-media ramai memuat berita tentang final Piala Dunia. Termasuk surat kabar yang setiap pagi biasa saya baca. Menariknya di Piala Dunia tahun ini, meskipun yang menang adalah Italia tapi surat kabar yang saya baca itu dua hari ini justru menampilkan headline besar tentang tim Prancis yang tentunya membahas Zidane yang seharusnya bisa membawa tim Prancis menjadi juara.

Tadinya saya pikir wartawan surat kabar yang menulis berita ini sebenarnya adalah fans Prancis. Hingga selama dua hari ini, bukannya mengangkat berita tentang kemenangan Italia sebagai headline, dia malah banyak menulis tentang Zidane. Bahkan teman saya yang pernah menjadi wartawan sebuah surat kabar juga berkomentar sama. Koran ini kok jelas-jelas membela Prancis.

Tapi setelah saya pikir-pikir. Terlalu lugu sepertinya kalau menganggap koran ini membela Prancis. Nggak mungkin deh kalau koran ini begitu saja menampilkan diri membela Zidane dan tim yang tidak memenangkan Piala Dunia.

Dan akhirnya, setelah saya lihat juga ke sekeliling, media elektronik dan media cetak yang lain, saya juga menemukan ternyata semua media kini justru mengangkat berita tentang Prancis. Tentang kartu merah Zidane akibat sundulan kepalanya pada Matterazi.

Zidane, Piala Dunia 2006Saya bukan pecandu bola. Jadi saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tim favorit menjadi pemenang Piala Dunia. Saya cuma penikmat media dan menikmati juga rasanya berkecimpung di dunia jurnalistik. Sehingga akhirnya saya tahu kalau koran yang saya baca tadi pagi sebenarnya bukan membela Zidane. Koran itu sebenarnya membela kontroversi yang tentu lebih laku dijual. Bad news is good news. Teka-teki tentang kenapa Zidane sampai kehilangan kesabarannya saat pertandingan dan membuatnya dikeluarkan dari lapangan tentu lebih menarik daripada membahas bagaimana pertandingan berlangsung. Setiap kali Piala Dunia tentu ada pemenangnya. Dan cara menangnya juga tidak terlalu jauh beda. Tapi ada pemain kawakan yang mendapat kartu merah di pertandingannya yang terakhir sebelum pensiun, tentu tidak akan selalu ada.

Saya jadi ingat film Tin Cup yang ceritanya tentang pegolf nyentrik Roy McAvoy (Kevin Costner) yang di sebuah kejuaraan open memilih untuk mengulang pukulan berkali-kali demi mendapatkan hole in one, meskipun hal itu membuat dia tidak mendapat angka yang cukup untuk menjadi juara. Tapi apa kata Dr. Molly Griswold (Rene Russo), wanita psikiater yang lagi didekati McAvoy. “Orang tidak akan ingat siapa pemenang turnamen di tahun sekian, tapi orang akan selalu ingat McAvoy yang dengan gila berusaha mendapatkan hole in one dan akhirnya mendapatkannya.”

4 Komentar to “Membela Zidane”

  1. Iya.Logika manapun akan mengiyakan bahwa sesuatu telah memicu Zidane melakukan itu. Berbeda dengan Rinto, saya adalah penyuka bola. Jadi sangat merindukan tim jagoan saya tampil sebagai pemenang. Kebetulan Italia yang saya gadang sebagai tim yang memeluk tropi berkepala bola dunia.
    Tetapi, saya agak kecewa dengan noda yang menaungi dinobatkannya Italia sebagai juara.
    Apapun bentuknya…!
    Semoga ada hikmah buat Zidane..

  2. Untungnya saya bukan penyuka bola. Jadi bisa mengambil posisi netral dari kedua pihak.
    Ya. Semoga ada hikmah juga buat Materazzi🙂

  3. Dari http://www.dailymail.co.uk/pages/live/articles/news/news.html?in_article_id=395046&in_page_id=1770

    With the help of an expert lip reader the Daily Mail was able to decipher what led to the violent outburst.

    First defender Marco Materazzi spoke in Italian – a language understood by Zidane who once played for Italian side Juventus – grabbed his opponent and told him ‘hold on, wait, that one’s not for a n***** like you.’

    It is not clear whether the Italian was referring to the ball heading their way or his own groping of Zidane.

    The expert, who can lip read foreign languages phonetically and translate with the aid of an Italian interpreter, was unable to see what Zidane said in reply.

    But she saw that as the players walked forward Materazzi said: ‘We all know you are the son of a terrorist whore.’

    Then, just before the headbutt, he was seen saying,: ‘So just f*** off.’

    The translation tallies with the words of Zidane’s agent who said the player had told him the Italian made a ‘very serious’ comment.

  4. ngga ada shoutbox jadi nitip teriakanku di sini aja yah, mas! salam selalu utk sesama PRIAMBODO🙂 hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: