Buku, Dulu & Sekarang

Orang pintar adalah orang yang meminjam buku dan tidak mengembalikannya.
Orang bodoh adalah yang bukunya dipinjam dan tidak kembali lagi.

Books and stuff by remind (www.sxc.hu)Sebegitu berhargakah nilai sebuah buku? Konon, memang ada suatu jaman ketika sebuah buku bisa berharga seperti sebuah rumah. Begitu mahalnya harga sebuah buku, selain karena usaha penulis bukunya dan juga karena ilmu yang di kandungnya sangat bernilai dan bermanfaat.

Sekarang buku sangat mudah didapat. Mulai dari cetakan sederhana dengan kertas coklat kasar dan cetakan hitam putih yang buruk sampai yang mewah dengan kertas lux, tinta warna-warni dan sampul hard-cover. Bahkan sekarang buku semakin mudah didapat dengan adanya teknologi digital yang membuat buku dapat diakses melalui komputer, diunduh dan dikopi dalam waktu singkat.

Jadi apakah dengan demikian nilai buku menjadi semakin rendah dan semakin tidak bernilai karena semakin mudah didapat? Tentu tidak. Buku tetap merupakan sumber ilmu yang tak ternilai. Itulah kenapa masih banyak orang yang meminjam buku tanpa mengembalikannya🙂. Masih banyak orang yang berusaha mencari buku gratisan di internet yang artinya juga masih banyak orang yang mau bersusah-susah mengumpulkan buku-buku atau sekedar mengumpulkan informasi tentang buku-buku gratis di internet.

Lalu bagaimana memberi nilai sebuah buku? Di indonesia saja, penulis sebuah buku rata-rata hanya dihargai tidak lebih dari sepuluh persen harga jual bukunya di mana sisanya diambil oleh penerbit dan distributor buku. Itulah kenapa banyak penulis yang memiliki modal cukup memilih untuk menerbitkan bukunya sendiri. Padahal dulu menerbitkan dan mempromosikan buku adalah sebuah pekerjaan yang berat karena minimnya media pemasaran.

Tapi sekarang sudah ada internet dan format buku digital sudah banyak digunakan. Memasarkan dan mendistribusikan sebuah buku akhirnya menjadi lebih mudah. Sehingga penulis pun tidak lagi harus bergantung pada penerbit dan distributor besar. Hanya saja para penulis buku nantinya akan dihadapkan pada masalah serupa dengan penulis lagu dan pembuat musik. Ciptaan mereka beredar dengan mudah di internet tanpa mereka mendapatkan keuntungan selain keuntungan popularitas.

Namun saat ini industri musik juga sudah menemukan banyak jalan keluar di ranah digital. Download lagu berbayar sudah didukung oleh banyak pihak dan kampanye anti pembajakan juga sudah marak. Sehingga genre buku nantinya juga harus sama-sama menemukan jalan keluar. Jadi nanti mungkin akan ditemukan format ebook yang mengharuskan pembacanya untuk membayar terlebih dahulu, atau mungkin nanti akan ada bentuk bisnis baru yang akan lebih melindungi dan menjaga hak para penulis atas kekayaan intelektual mereka. Teknologi berkembang pesat dan tidak bisa ditahan. Daripada bersusah payah menahan perkembangan teknologi, akan lebih baik kalau kita berusaha beradaptasi dan mencari celah di sana.

6 Komentar to “Buku, Dulu & Sekarang”

  1. Quote di awal itu sebenarnya berbunyi begini:
    “Orang yang meminjamkan buku bagus adalah orang bodoh. Namun, yang lebih bodoh lagi adalah orang yang mengembalikan buku bagus yang sudah berhasil dipinjamnya.”

    Quote itu saya dapat ketika saya menagih kembali buku The Complete Idiot’s Guide to Psychology yang saya pinjamkan ke teman saya setahun lalu. Dia menjawab seperti itu, dan berhasil membuat saya benar2 merasa seperti seorang complete idiot.

  2. Klo bagi saya, orang bodoh adl orang yg enggan membagikan ilmunya. mas Kreshna saya pikir bukanlah seorang complete idiot.

    Jika memang seorang complete idiot diartikan sbg orang yg dg sukarela membagikan & menghidupkan ilmu yg dimilikinya shg membawa perubahan positif yg signifikan bg atmosfer di sekitarnya, maka saya amat tidak keberatan mjd seorang complete idiot

    v(^_^)v

  3. to kreshna,
    itu kan quote yang dari teman anda.
    sebelum mendengar quote itu dari kreshna, saya sudah pernah mendengarnya dari orang lain, kok. hehehe…

  4. Kalau aku punya adagium sendiri, qita boleh menerima apapun dari manapun dan siapapuntermasuk membaca buku apapun namun qita sebagai manusia tidak seharusnya hanya memproduksi atau mereproduksi ulang aja apa yang telah qita terima tadi, namun sebaliknya, pendapat statment atau apapunlah semua masih bergulir sebagai sebuah kebenaran, apalagi yang hany berupa quote yang dipersoalkan seperti itu, sah-sah saja untuk menulisnya berbeda palagi substansinya sama, bahkan qita pun bisa merubahnya jika perlu, karena bagiku “kebenaran cukup untuk dirinya (kebenaran) sendiri” bukan untuk menyalahkan, dan seketika ia akan ikut menjadi salah jika itu terjadi”

  5. saya mau tanya, bisa minta info alamat distributor buat buku puisi yang bisa dipercaya?

  6. quote diatas kurang lengkap:
    orang yang lebih pintar adalah yang meminta uang jaminan seharga buku yang dipinjamkannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: