Shoot It!

taking photoSampai kira-kira lima tahun yang lalu, fotografi masih menjadi hobi yang mahal karena kita harus selalu mencetak berlembar-lembar foto untuk melihat hasil jepretan kita atau sekedar melakukan manipulasi ulang. Tapi sekarang, kamera saku digital Nikon di bawah harga 3 juta sudah bisa menghasilkan gambar yang sangat bagus dan dengannya kita bisa mengabadikan beribu-ribu gambar atau menyuntingnya di komputer dengan mudah.

Nikon Coolpix 3500 dengan kemampuan 3.2 megapixel adalah kamera digital yang pertama hadir di rumah saya. Foto terlama yang pernah diabadikan oleh kamera itu memiliki timestamp bertahun 2003. Kamera itu masih awet sampai sekarang dan sudah sangat berjasa buat saya berlatih mengambil sudut-sudut pandang (angle) terbaik tanpa harus khawatir kehabisan duit untuk mencetak foto. Cukup hanya denganbermodal hard disk yang besar atau CD writer dan setumpuk CD blank.

resize-of-dscn0416.JPG resize-of-dscn0417.JPG resize-of-dscn0418.JPG

Memang, sekian tahun punya kamera digital tidak lantas membuat saya langsung menjadi fotografer hebat. Karena di kurun waktu tersebut saya juga tidak terlalu intensif berlatih. Justru kalau dihitung-hitung saya lebih banyak memotret di lapangan sewaktu masih berbekal Nikon FE, kamera film klasik. Apalagi pas jaman-jamannya demo mahasiswa. Saya sangat menikmati jadi jurnalis foto waktu itu. Meski tanpa institusi dan bukan freelance juga karena foto-fotonya hanya saya simpan sendiri atau kadang dipinjam teman yang kebetulan terfoto mukanya. Sehingga mungkin kalau dibandingkan dengan yang cuma berlatih beberapa bulan saja tapi intesif, saya tentu kalah.

daddy-the-photographer.jpgFotografi memang hobi mengasyikkan. Kebetulan karena memang saya orang visual. Dan mungkin juga karena saya ada minat di jurnalistik dan penulisan fiksi, saya kemudian lebih cenderung menyukai fotografi jurnalistik yang saya anggap lebih bercerita. James Nacthwey adalah salah satu favorit saya untuk fotografi jurnalistik. Karena interest itu pulalah saya juga lebih suka motret demo, motret manusia, daripada motret benda-benda tak bergerak. Saya sangat berterima kasih sama bapak saya yang juga suka pada fotografi, sehingga perlengkapan foto tersedia lengkap di rumah dan bisa saya gunakan🙂 .

9 Responses to “Shoot It!”

  1. sejarah jurnalistik please bt nieee

  2. nama saya welly, saya mau nanya bagaimana menjadi seorang fotografi yang handal?
    jelaskan juga cara-cara / teknik pengambilan foto yang baik. terima kasih.

  3. halo, Welly. Ini saya punya link yang bagus untuk belajar fotografi.
    http://www.dg28.com/technique.html
    Selamat mencoba!🙂

  4. Belajar fotografi itu memang tidak langsung BISA. Perlu waktu dan latihan. Seperti filosofi yang saya: “berlatih, berlatih, dan berlatih. Tidak ada sang juara tanpa berlatih.” Buat yang gemar fotografi, bisa mampir di blog saya http://solihin-photo.blogspot.com

  5. Blog-nya mas solihin bagus sekali. Terutama kumpulan links-nya. Semoga selalu semangat mengupdate blog-nya, mas. Salam kenal🙂

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: