Ketika kita sedang membuka sebuah halaman website di Internet Explorer, kadang kita ingin menyimpan halaman tersebut menjadi sebuah file yang dapat kita buka kembali tanpa harus online. Untuk itu kita akan mengeklik menu File dan memilih ‘Save As…’. Kemudian kita akan memilih folder tempat file tersebut ingin kita simpan, mengubah nama file jika perlu dan mengeklik OK untuk menyimpan. File tersebut akan tersimpan di folder yang kita inginkan berupa file HTML dengan nama yang kita pilih plus sebuah folder yang berisi gambar-gambar, file CSS dan JavaScript (jika ada) dari website yang kita simpan. Folder ini akan mengikuti ke manapun file tersebut dipindahkan sepanjang kita mengkopinya menggunakan antarmuka Windows. Jadi kita tidak perlu khawatir gambar-gambar dari website tersebut tidak muncul saat file yang kita simpan tersebut kita buka di komputer lain. Sangat mudah dan praktis sampai suatu saat kita membuka folder di tempat menyimpan file tersebut, katakanlah My Documents, dan ingin mencari sebuah file di salah satu folder dalam My Documents. Kita mungkin baru menyadari bahwa folder My Documents kita telah penuh folder-folder bernama panjang dan berakhiran ‘_files’ memenuhi My Documents dan membuat kita kesulitan mencari folder lain yang kita inginkan. Rupanya kita sudah terlalu banyak menyimpan file ‘Save As…’ dari Internet Explorer dan tanpa sadar file-file yang kita simpan memenuhi My Documents dengan folder-folder tambahan yang ikut tersimpan.
Pilihan ‘Save As…’ di Internet Explorer
Akses FTP menggunakan Windows Explorer
Layanan hosting biasanya menyediakan akses FTP untuk memudahkan upload file. Memang kebanyakan hosting saat ini yang menyediakan fitur cPanel juga menyediakan fasilitas File Manager yang juga mudah digunakan untuk mengupload file. Bahkan tersedia juga fitur untuk edit file dengan mudah. Hanya saja, upload file menggunakan File Manager di cPanel menjadi kurang praktis kalau harus mengupload file dalam jumlah banyak. Untuk itu akses FTP menjadi sangat vital.
Pahitnya Mengobati Hati
Seorang teman menyampaikan nasihatnya di sebuah forum pengajian. Dia bercerita tentang pengobatan hati yang sedang tidak sehat. Kadangkala kita merasa keimanan kita sedang turun. Malas beribadah, sholat berlambat-lambat, berat untuk ke masjid, apalagi baca Al Quran. Beruntunglah kalau saat itu kita juga sadar kalau keimanan sedang turun. Meskipun tidak langsung bisa pulih, kadang kita juga berharap dan berusaha untuk bisa segera kembali dari keterpurukan hati. Tak kurang juga teman dan keluarga yang bersimpati mengingatkan untuk segera memperbaiki ibadah. Tapi dasar sedang turun iman, panggilan hati tak didengar, apalagi teguran dari orang lain malah dirasakan sebagai gangguan.
Menggunakan Monitor Ganda
Pingin bisa bekerja di depan komputer sambil memonitor sesuatu, pesan yang masuk atau data yang selalu berubah? Atau selalu kerepotan kalau harus copy-paste banyak data atau bekerja dengan referensi karena harus bolak-balik pindah window? Kalau punya budget untuk beli monitor baru/bekas spesifikasi rendah (paling nggak sampai 500 ribu) atau ada monitor ngganggur di rumah atau kantor, mungkin bisa mempertimbangkan ide ini.
Mengoptimalkan Layar Monitor
Kata ustad, sifat zuhud atau merasa cukup itu tidak hanya dengan menahan diri untuk tidak memiliki sesuatu yang bagus. Tapi dengan memiliki yang bagus pun kita juga bisa bersikap zuhud, yaitu dengan mengoptimalkan apa yang sudah (terlanjur) kita punya. Sebelumnya saya sudah merasa cukup dengan monitor 14″ atau setidaknya 15″. Asalkan bisa memiliki resolusi 800×600 atau 1024×768. Tapi sekarang, di kantor maupun di rumah, PC saya menggunakan monitor 17″. Memang sih tidak sekali saya berangan punya monitor yang besar. Dengan itu saya bisa mendesain di Photoshop dengan enak. Kanvas berukuran besar dan tools di kanan-kiri tanpa perlu menyesaki layar. Tapi ternyata tidak hanya itu manfaat punya monitor luas. Ini juga baru saya sadari setelah beberapa bulan memakai monitor ganda di kantor.
Mengoptimalkan Komputer
Entah karena irit atau memang pelit, yang jelas dulu saya sering malu kalau mau minta duit buat upgrade komputer. Akhirnya kreatifitas pun seringkali muncul untuk mengatasi keterbatasan hardware. Saat teman-teman lain sudah punya komputer berpentium-pentium, saya masih pakai 486DX4. Sewaktu sudah ada yang pakai Pentium III, saya masih pakai 166MMX. Itu juga dulu terpaksa ganti karena motherboard yang lama terbakar. Sampai hampir Tugas Akhir saya pakai itu dengan susah payah mengerjakan tugas-tugas yg berat (maksudnya berat kalau dijalankan di komputer).
Yahoo Messenger di HP
Bingung karena akses YM di kantor diblokir? Yang versi web juga? Atau lagi jalan-jalan tapi ada teman ngajak chatting di YM? Solusinya adalah YM lewat HP. Pertama bisa pakai SMS. Ketika masih online di PC, jangan sign out. Tapi pilih menu ‘Sign in to Mobile Device’. Anda nanti akan diminta untuk mendaftarkan lebih dulu nomor seluler Anda. Kalau sudah sign in menggunakan HP, di YM milik teman Anda akan muncul ID Anda sedang online dengan status ‘I’m on SMS’. Teman Anda dapat langsung mengirim pesan ke Anda dan pesan tersebut langsung terkirim ke HP Anda berupa pesan SMS. Sekali kirim maksimal 160 karakter karena dikirim berupa SMS. Dan kelemahannya, kalau kita membalas pesan tersebut, artinya kita akan mengirim pesan SMS ke Yahoo! dan kita akan terkena charge SMS internasional sebesar Rp.500,- (umumnya segitu). Nah, kalau tidak mau kena charge SMS, masih ada alternatif lain.
Yahoo Messenger di Web
Di beberapa kantor, akses Yahoo Messenger sengaja diblokir. Alternatifnya, pengguna setia YM bisa menggunakan beberapa alamat website yang menyediakan layanan YM via web. Ada meebo.com, koolim.com dan beberapa alamat lain. Rata-rata cukup enak digunakan karena meniru model tampilan YM yang sebenarnya. Nah, baru-baru ini akhirnya muncul juga versi web dari YM dari Yahoo! sendiri, yaitu di http://webmessenger.yahoo.com. Karena berasal dari Yahoo! sendiri, tentu feel-nya lebih YM dan tentunya lebih aman karena keamanan login kita dijamin oleh Yahoo! sendiri. Nah, tinggal pilih mau pakai yang mana. Sebelum akses web-web ini juga diblokir oleh kantor
Hosting di Komputer Pribadi
Ingin hosting, tapi tidak menemukan hosting gratis yang cocok atau sewa hosting bukan pilihan? Atau cuma ingin mengetes website yang baru kita bikin, bagaimana caranya supaya teman atau mungkin klien kita ingin melihatnya? Kita bisa menggunakan komputer pribadi yang biasa kita pakai di rumah untuk berinternet, lho
!
Salah Kaprah Domain .com dan .co.id
Akhir tahun kemarin, ketika terjadi heboh musibah internet putusnya jalur internet internasional (terutama yang ke USA) dari Indonesia, sejumlah perusahaan kalang kabut karena komunikasi via internet dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri terganggu. Juga, website-website di luar negeri dan server email di luar negeri yang biasa mereka gunakan menjadi sangat sulit diakses. Sehingga kemudian muncul statement, segera pindahkan web-web yang kita gunakan dari hosting di luar negeri ke hosting dalam negeri. Statement lain, jangan gunakan domain .com dan gunakanlah domain .co.id agar tidak lagi terganggu koneksi internet internasional.









